Analisis Puisi ‘Cargoes’ Karya John Masefield

Rasanya sudah lamaaaaaa sekali tulisan di blog in itidak ter-update. Bukan karena saya tidak punya waktu, terlalu sibuk atau karena semua alasan keren yang lainnya. Thanks to the L factor. Yah, harus diakui bahwa saya adalah penderita penyakit Lazyneumia (baca:malas). Tapi jangan khawatir penyakit ini tidak semengerikan Pneumonia atau saudara – saudara Monia yang lainnya (asal !!!).

Sebelum terlalu jauh membahas hal – hal yang tidak penting, sebaiknya saya segera kembali ke niat awal untuk membahas analisis puisi ‘Cargoes’.

Pernahkah anda mendengar puisi ‘Cargoes’ ? Bagi orang yang memang menggeluti atau menggemari kesusateraan pasti tidak asing dengan puisi ini karena puisi cukup terkenal. Tapi bagi anda yang belum pernah mendengar atau membacanya, silahkan membacanya di bawah ini….

CARGOES

Quinquireme of Nineveh from distant Ophir,
Rowing home to haven in sunny Palestine,
With a cargo of ivory,
And apes and peacocks,
Sandalwood, cedarwood, and sweet white wine.

Stately Spanish galleon coming from the Isthmus,
Dipping through the Tropics by the palm-green shores,
With a cargo of diamonds,
Emeralds, amythysts,
Topazes, and cinnamon, and gold moidores.

Dirty British coaster with a salt-caked smoke stack,
Butting through the Channel in the mad March days,
With a cargo of Tyne coal,
Road-rails, pig-lead,
Firewood, iron-ware, and cheap tin trays.

John Masefield

Pada bait pertama, puisi Cargoes ini menceritakan sebuah kapal quinquireme yang besar milik negeri bernama Nineveh yang berlayar dari negeri Ophir yang sangat jauh. Kapal ini berlayar pulang ke Palestina / Nineveh yang cuacanya sedang cerah untuk beristirahat. Diceritakan pula, kapal ini mengangkut banyak muatan. Diantaranya, gading gajah, monyet, burung merak, kayu cendana, kayu sedar, dan anggur putih yang manis.

Image

Quinquireme

Pada bait kedua, puisi ini masih menceritakan tentang sebuah kapal. Kali ini menceritakan kapal galleon milik kerajaan Spanyol yang agung, berlayar dari sebuah tanah genting. Dalam pelayarannya, kapal ini melewati pulau – pulau tropis dengan kargo yang penuh dengan batu – batuan berharga, koin emas dan kayu manis.

Image

Galleon

Di bait terakhir, terdapat sedikit perbedaan dengan bait pertama dan kedua, meskipun yang diceritakan masih tentang kapal. Tidak seperti dua kapal sebelumnya yang terkesan megah, kapal di bait adalah sebuah kapal pantai (coaster) yang berkarat dan hitam akibat bekas asap dari cerobong. Kapal ini berlayar di bulan Maret yang berbadai. Kargonya mengangkut batu bara dari sungai Tyne, baja rel kereta api, timbal, kayu bakar, benda – benda yang terbuat dari besi dan talang yang terbuat dari timah murahan.

Image

Coaster

Pada dua bait pertama bunyi beberapa huruf seolah mewakili gambaran kemegahan kedua kapal tersebut. Seperti bunyi kontras pada ‘Quinquireme of Nineveh’ serta bunyi t, s, dan l pada ‘Stately Spanish galleon’. Hal ini sangat berbeda pada bait terakhir yang terdengar kasar dengan dominasi bunyi huruf – huruf konsonan seperti r, t dan k. Seperti pada ‘Dirty British coaster with a salt-caked smoke stack’.

Quinquireme dan galleon diceritakan berlayar dengan cepat dan lancar di cuaca yang sangat baik . Sedangkan Dirty British coaster berlayar pada bulan Maret yang diketahui sebagai musim yang buruk untuk berlayar di Inggris. Cuaca buruk pada bulan Maret ini digambarkan dengan kata ‘mad’ yang juga digunakan agar terdengar serasi dengan kata ‘March’.

Lebih jauh, ditilik dari sisi sejarah ketiga kapal pada puisi ini seolah mewakili tiga zaman yang berbeda. Quinquireme adalah jenis kapal  perang besar yang dipakai sekitar  399 SM bangsa Romawi dan Cartagnian.  Sedangkan galleon adalah kapal yang digunakan oleh orang – orang Eropa sekitar abad ke 16 hingga abad 18 masehi. Coaster adalah kapal yang saat ini digunakan di Inggris, biasanya hanya berlayar di sekitar garis pantai yang sama. Selain itu, barang – barang yang diangkut oleh ketiga kapal tersebut juga menceritakan komoditi penting dari masing – masing zamannya.

Demikian analisis puisi Cargoes ini. Terakhir, saya ingin mengutip dosen mata kuliah Telaah Puisi saya, Mr Assagaf yang mengatakan, “Puisi ini merangkum sejarah dari tiga zaman yang berbeda ke dalam tiga baitnya. Hal inilah yang membuat puisi ini  luar biasa, tidak banyak penyair seperti John Masefield.”

Sumber :

http://en.wikipedia.org/

http://www.poemhunter.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s