Obrolan di Pete – pete

Aku menguap panjang berkali – kali saat sedang menunggu pete – pete 07 yang akan kutumpangi ke toko buku. Sore itu, aku berjuang mati – matian melawan kantukku. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak keluhan yang keluar dari mulutku karena rasa lelah dan kantuk. Betapa tidak, semalam aku baru tidur pukul 4 pagi karena harus mengerjakan sekarung tugas dari dosen (nah lo ?). Belum lagi aku harus bangun lagi pagi – pagi karena ada kuliah pukul 08.00. Pwaaaahhhh !!!! Rasanya ingin lari ke pantai kemudian teriak (yang ini kok mirip puisinya abang rangga di AADC ya ??).
Setelah tugas terkumpul, aku berharap bisa sedikit bersantai. Namun ternyata saudara – saudara sekalian !!!! Dosen dari mata kuliah lain memberikan tugas lain yang lebih parah. Setiap mahasiswa ditugaskan untuk membaca 15 halaman dari sebuah buku yang ditentukan. Setelah dibaca, dibuat reading report (baca: reading repot)  nya dan harus rampung dalam dua hari. Yang lebih mengerikan, buku itu harus dicari dan dibeli sendiri di toko buku (makan apa aku besok ???). Yah… aku tahu apa yang kalian pikirkan. Para dosen sepertinya memang berbakat untuk menjadi penganiaya handal.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, yang kuisi dengan menguap dan mengupil (yang terakhir tidak serius), akhirnya sang pete – pete pun tiba. Tanpa aba – aba si pete – pete berhenti tepat di hadapanku. Dengan sedikit oleng aku menaiki kendaraan favoritku tersebut.
Di dalam pete – pete tersebut seorang cowok menatapku dengan tatapan aneh bercampur geli (tidak usah repot – repot dibayangkan). Aku menebak, dalam hati dia pasti berkata ” apakah ini seekor cewek bermata panda atau seorang panda bertubuh langsing ?” Dengan naluri kewanitaanku, aku merogoh cermin kecil dari tasku dan mengintip wajahku. Benar saja, di bawah mataku telah tercetak noda gelap nan indah (kantung mata). Musnahlah sudah kecantikanku…. *hoeeeekkk.
Di kursi depan, seorang ibu dengan bangganya bercerita tentang anaknya yang akan dia daftarkan di jurusan kedokteran tahun ini. Si supir yang sepertinya menyimak baik – baik cerita si ibu, menanggapi dengan nada sedih. “Anakku saya bu, tahun lalumi lulus. Mau kukasi kuliah tapi tena doe’.”
“Ih, kalo universitas swasta mahal memang spp nya. Tapi kalo unhas murahji daeng,” ujarku.
“Iye, tapi kalo mau masuk haruspi lagi ikut bimbel. Main jutaanpi itu lagi.”
“Saya nda ikutja bimbel dulu, tpi lulusja juga,” sanggahku.
“Jurusan apaki kah dek ?” giliran si ibu yang bertanya.
“Sastra Inggris,” jawabku singkat.
“Ooh, pantas. Rendahji memang passing grade nya, jadi gampang orang masuk. Tapi sedengar – dengar kurang baguski.” Ucapnya santai.
Gubrakkkkk !!!
“Itu rendah PG nya bu, karena kebetulan peminatnya sedikit. Sayangnya, kebanyakan orang masih mengukur kualitas suatu jurusan dari PG nya. Padahal, pada dasarnya samaji. Jurusan sastra Inggris itu bagus bu, banyak loh lulusannya yang sekarang jadi diploma di luar negeri.” Si cowok yang sedari tadi diam, akhirnya memberikan komentar penyelamatan untukku. Aku menatapnya dengan tatapan berterima kasih (mataku berkaca kaca sambil mengucapkan terima kasih #berlebihan#).
Setelah itu, nyaliku untuk berkomentar meningkat kembali. “Bapakku pernah bilang, jurusan apapun itu kalau dijalani dengan baik dengan serius, insya Allah akan membuahkan hasil yang baik juga.” (Ini serius, bapakku pernah billang. Tojengnga !).
“Berapakah spp ta kita dek ?” cletuk si supir.
“600 per semester daeng.”
“Murah itu menurutta, tapi kalo penghasilannya kaya saya ini, masih mahal itu. Ada lagi pemasukan, tapi banyak juga mau dibayar yang lain.”
Aku baru akan berkomentar lagi, tapi rupanya aku sudah sampai di tujuanku. Komentarku akhirnya kuganti dengan, “kiri !!!”
Setelah turun , aku berjalan dengan pelan menuju tempat toko buku tujuanku berada. Pikiranku masih dipenuhi dengan percakapan tadi.
Rupanya pendidikan masih terbilang cukup mahal bagi sebagian orang. Sementara aku yang dengan mudah memperoleh pendidikan, malah banyak mengeluh dan selalu ingin bersantai. Tidak ada rasa syukur terhadap anugerah tersebut.
“Astaga !!!! ” Tiba – tiba aku menyadari sesuatu. Aku lupa membayar ongkos pete – pete tadi. Bingung, mau senang atau kasian nih ? Si supir kok tidak menegur sih ? Ah, mungkin memang ini sudah rejekiku hari ini, naik pete – pete gratis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s