Analisis Puisi ‘Cargoes’ Karya John Masefield

Rasanya sudah lamaaaaaa sekali tulisan di blog in itidak ter-update. Bukan karena saya tidak punya waktu, terlalu sibuk atau karena semua alasan keren yang lainnya. Thanks to the L factor. Yah, harus diakui bahwa saya adalah penderita penyakit Lazyneumia (baca:malas). Tapi jangan khawatir penyakit ini tidak semengerikan Pneumonia atau saudara – saudara Monia yang lainnya (asal !!!).

Sebelum terlalu jauh membahas hal – hal yang tidak penting, sebaiknya saya segera kembali ke niat awal untuk membahas analisis puisi ‘Cargoes’.

Pernahkah anda mendengar puisi ‘Cargoes’ ? Bagi orang yang memang menggeluti atau menggemari kesusateraan pasti tidak asing dengan puisi ini karena puisi cukup terkenal. Tapi bagi anda yang belum pernah mendengar atau membacanya, silahkan membacanya di bawah ini….

CARGOES

Quinquireme of Nineveh from distant Ophir,
Rowing home to haven in sunny Palestine,
With a cargo of ivory,
And apes and peacocks,
Sandalwood, cedarwood, and sweet white wine.

Stately Spanish galleon coming from the Isthmus,
Dipping through the Tropics by the palm-green shores,
With a cargo of diamonds,
Emeralds, amythysts,
Topazes, and cinnamon, and gold moidores.

Dirty British coaster with a salt-caked smoke stack,
Butting through the Channel in the mad March days,
With a cargo of Tyne coal,
Road-rails, pig-lead,
Firewood, iron-ware, and cheap tin trays.

John Masefield

Pada bait pertama, puisi Cargoes ini menceritakan sebuah kapal quinquireme yang besar milik negeri bernama Nineveh yang berlayar dari negeri Ophir yang sangat jauh. Kapal ini berlayar pulang ke Palestina / Nineveh yang cuacanya sedang cerah untuk beristirahat. Diceritakan pula, kapal ini mengangkut banyak muatan. Diantaranya, gading gajah, monyet, burung merak, kayu cendana, kayu sedar, dan anggur putih yang manis.

Image

Quinquireme

Pada bait kedua, puisi ini masih menceritakan tentang sebuah kapal. Kali ini menceritakan kapal galleon milik kerajaan Spanyol yang agung, berlayar dari sebuah tanah genting. Dalam pelayarannya, kapal ini melewati pulau – pulau tropis dengan kargo yang penuh dengan batu – batuan berharga, koin emas dan kayu manis.

Image

Galleon

Di bait terakhir, terdapat sedikit perbedaan dengan bait pertama dan kedua, meskipun yang diceritakan masih tentang kapal. Tidak seperti dua kapal sebelumnya yang terkesan megah, kapal di bait adalah sebuah kapal pantai (coaster) yang berkarat dan hitam akibat bekas asap dari cerobong. Kapal ini berlayar di bulan Maret yang berbadai. Kargonya mengangkut batu bara dari sungai Tyne, baja rel kereta api, timbal, kayu bakar, benda – benda yang terbuat dari besi dan talang yang terbuat dari timah murahan.

Image

Coaster

Pada dua bait pertama bunyi beberapa huruf seolah mewakili gambaran kemegahan kedua kapal tersebut. Seperti bunyi kontras pada ‘Quinquireme of Nineveh’ serta bunyi t, s, dan l pada ‘Stately Spanish galleon’. Hal ini sangat berbeda pada bait terakhir yang terdengar kasar dengan dominasi bunyi huruf – huruf konsonan seperti r, t dan k. Seperti pada ‘Dirty British coaster with a salt-caked smoke stack’.

Quinquireme dan galleon diceritakan berlayar dengan cepat dan lancar di cuaca yang sangat baik . Sedangkan Dirty British coaster berlayar pada bulan Maret yang diketahui sebagai musim yang buruk untuk berlayar di Inggris. Cuaca buruk pada bulan Maret ini digambarkan dengan kata ‘mad’ yang juga digunakan agar terdengar serasi dengan kata ‘March’.

Lebih jauh, ditilik dari sisi sejarah ketiga kapal pada puisi ini seolah mewakili tiga zaman yang berbeda. Quinquireme adalah jenis kapal  perang besar yang dipakai sekitar  399 SM bangsa Romawi dan Cartagnian.  Sedangkan galleon adalah kapal yang digunakan oleh orang – orang Eropa sekitar abad ke 16 hingga abad 18 masehi. Coaster adalah kapal yang saat ini digunakan di Inggris, biasanya hanya berlayar di sekitar garis pantai yang sama. Selain itu, barang – barang yang diangkut oleh ketiga kapal tersebut juga menceritakan komoditi penting dari masing – masing zamannya.

Demikian analisis puisi Cargoes ini. Terakhir, saya ingin mengutip dosen mata kuliah Telaah Puisi saya, Mr Assagaf yang mengatakan, “Puisi ini merangkum sejarah dari tiga zaman yang berbeda ke dalam tiga baitnya. Hal inilah yang membuat puisi ini  luar biasa, tidak banyak penyair seperti John Masefield.”

Sumber :

http://en.wikipedia.org/

http://www.poemhunter.com/

Iklan

PETUALANGAN FLASHDISK 4 GIGA

Ini adalah bulan ketigaku berada di toko ini. Setiap harinya belasan orang berlalu lalang tanpa memperhatikanku yang terpajang di sini. Tubuhku terasa mulai dikerubungi oleh debu, tapi sang pemilik toko tidak pernah mau membersihkanku. Aku merasa kurang bahagia di sini, tak ada yang pernah memperhatikanku atau menggunakanku. Rasanya ingin protes, tapi mulutpun aku tak punya. Ingin pergi, aku tak punya kaki.

Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat asalku yang sebenarnya. Aku berasal dari sebuah pabrik di sebuah negara di seberang lautan. Keberadaanku dimulai dari beberapa komponen kecil yang disatukan oleh tangan – tangan mesin buatan para ahli hingga terbentuk sepertiku saat ini. Setelah aku dirakit dengan teliti, aku dibawa ke sebuah gudang besar. Di sana aku disatukan dengan teman – teman sejenisku yang lain di dalam boks. Boks tersebut kemudian ditutup rapat, hingga membuat keadaan di dalam gelap gulita. Selama berminggu – minggu aku sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Terkadang kami mengalami goncangan – goncangan yang menandakan kami sedang dipindahkan.

Setelah entah berapa lama, boks gelap tersebut akhirnya terbuka. Beberapa orang mulai memilah – milah kami kemudian membawaku ke sini. Saat itu aku disambut dengan ekspresi datar sang pemilik toko tempat aku berada saat ini. Dia kemudian menataku dan beberapa temanku yang juga ikut bersamaku ke toko ini.

Sedikit gambaran tentang pemilik toko ini, dia adalah seorang lelaki paruh baya yang memiliki tubuh tambun bernama Komar. Kulitnya bersih karena dia selalu berada di dalam ruangan tapi wajahnya jauh dari tampan. Malahan bisa dikatakan wajahnya mirip dengan seorang residivis. Bisa jadi aku betul. Tapi entahlah, aku tidak bisa memastikan. Dia memiliki seorang anak laki – laki berumur sekitar 7 tahun yang sangat aktif bernama Andi. Terkadang dia mengetuk – ngetuk dinding kaca etalase tempatku berada dengan uang koin atau pulpen yang terus terang sangat menganggu ketenanganku.

Setiap hari Titi, mengantarkan makanan ke toko ini. Titi adalah istri komar. Aku meragukan itu sebenarnya, dia terlihat lebih mirip pembantu bagi Komar. Hanya ketika Andi memanggilnya ibu yang memastikan segalanya. Titi adalah wanita yang kurus sangat kontras dengan suaminya. Wajahnya selalu terlihat sedih. Meski hanya sebuah benda mati, aku tahu bahwa Titi sama sekali tidak bahagia hidup bersama Komar. Entah apa yang membuatnya bisa bertahan hidup bersama Komar yang berperangai kasar tersebut, Andi mungkin.

Tak pernah sekalipun aku melihat Komar bersikap manis kepada Titi. Aku tahu, selayaknya seorang suami harus bersikap lembut terhadap istrinya. Itu yang aku perhatikan dari kebanyakan suami istri yang datang ke toko ini.

Namun, aku melihat ada yang aneh dari Komar. Perangainya dapat berubah 180 derajat ketika bertemu dengan pemuda yang berpenampilan menarik. Hal ini sering terjadi. Tetapi yang paling mencolok adalah kejadian sekitar 2 hari yang lalu. Kejadian bermula ketika ada seorang pemuda yang datang ke toko ini. Wajahnya sangat menarik dan penampilannya serasi. Harus kuakui, sangat menyenangkan memperhatikan keseluruhan tubuhnya. Komar menyambutnya dengan senyuman yang mungkin menurutnya manis tetapi menurutku menjijikkan. Pemuda tersebut mengaku dirinya adalah seorang mahasiswa. Dia sedang berniat membeli sebuah laptop. Selama berbicara dengan Komar, dia terlihat tidak nyaman. Kelakuan Komar sendiri terlihat sangat aneh, dia berkali – kali mengedipkan matanya ke arah sang pemuda dan mengulum bibir bawahnya. Setelah beberapa saat, tangannya perlahan meraih tangan pemuda tersebut dan mencoba menggenggamnya. Reaksi pemuda tersebut cukup mengejutkanku. Dia kemudian menarik tangannya dengan kasar dan membentak Komar. Aku lupa apa tepatnya yang dia katakan, tapi sepertinya dia menyebutkan kata hamo atau homo. Entah apa artinya, aku belum pernah mendengar kata tersebut sebelumnya. Setelah membentak Komar, pemuda tersebut kemudian bergegas keluar, sementara Komar terlihat kesal karenanya. Setelah kejadian tersebut kelakuan komar terhadap Titi semakin kasar. Apa salah Titi ? dan apa hubungannya dia dengan kejadian tersebut ? Aku sama sekali tidak melihat adanya hubungan antara keduanya. Kasihan Titi, sering dia keluar dari toko sambil menangis dan pergi entah ke mana. Tetapi, hari berikutnya dia akan kembali dengan membawa rantang berisi makanan untuk Komar. Bagiku manusia itu makhluk yang sangat aneh.

Hari ini seperti biasa Komar membuka tokonya pukul 8 pagi. Pengunjung pertama yang datang adalah seorang gadis. Wajahnya biasa saja, tapi terlihat sangat segar. Mungkin karena masih pagi.

“Cari apa ?” ucap Komar acuh.

“Hmmm, cari flashdisk 4 G pak. Yang bagus yang mana yah ?”

“Sebenarnya semua sama saja dek, tapi silahkan dilihat –lihat dulu.” Komar menunjuk ke etalase tempatku dan teman – temanku berjejer.

“Kalo yang ini berapa ?” Si gadis menunjuk temanku yang tidak seberapa jauh dariku.

“Yang itu 90 ribu, mau ?”

“Bisa kurang nggak harganya ?”

“Maaf, itu sudah harga pas.” Komar menggeleng kesal. “Atau kalau mau yang sedikit lebih murah, yang ini saja.” Ucap Komar sambil menunjukku.

“Berapa ?”

“Ini 80”

“Yang itu aja deh.” Setelah berkata begitu, dia merogoh sakunya dan memberi beberapa lembar uang ke Komar

Setelah transaksi selesai, si gadis membawaku ke luar dari toko tersebut. Lega rasanya bisa keluar dari etalase kaca setelah sekian lama berada di dalam sana berselimut debu. Pasti menyenangkan bisa melihat dunia luar.

Sayangnya itu tidak sepenuhnya benar, begitu keluar dari toko, si gadis memasukkanku ke dalam tasnya yang gelap. Aku kembali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana.

Setelah beberapa lama si gadis mengeluarkanku dari tas nya, sepertinya aku sedang berada di rumahnya, tepatnya di kamarnya. Dia mulai mencolokku ke laptopnya. Inilah tugas pertamaku sejak aku di buat. Tiba – tiba, seseorang memanggilnya.

“Lila, kamu sudah pulang ?”

“Iya bu, “ jawabnya singkat, setelah itu tak ada lagi suara. Sekarang aku tahu namanya, Lila. Nama yang manis.

Lila kembali fokus ke laptopnya, mengetikkan sesuatu selama beberapa waktu. Aku kemudian tenggelam dalam lamunanku sendiri. Di tengah lamunan aku tersentak oleh rasa sakit di dalam tubuhku. Aku ingin menjerit keras, tetapi tidak ada suara yang keluar. Apa yang terjadi padaku ?

Selama beberapa saat rasa sakit itu seperti menggigit isi dalamku. Sepertinya ada file bervirus yang dimasukkan ke dalam tubuhku. Andai aku tahu akan begini rasanya, aku tidak akan mau di jual. Lebih baik aku dipajang di etalase saja selamanya. Tapi sanggupkah aku menolak ?  Aku hanya benda mati yang tidak bisa berbuat apa – apa.

Kehidupanku saat ini ternyata sama membosankannya dengan kehidupanku di dalam toko dulu. Belum lagi di tambah rasa sakit yang harus kuderita ketika Lila atau teman – temannya memasukkan file bervirus ke dalam tubuhku, menyakitkan sekali. Semakin hari rasa sakit itu semakin bertambah saja karena aku sembarang laptop atau komputer tanpa pernah di bersihkan dengan anti virus.

Terkadang jika aku tidak sedang digunakan, aku akan berada di dalam tas apek Lila selama berhari – hari atau tergeletak di meja tanpa pernah di hiraukan. Jika seperti itu, biasanya waktuku kugunakan untuk mendengarkan pembicaraan Lila dan orang – orang di sekitarnya. Dari kegiatan mendengarkan itu, aku jadi tahu kalau Lila sering sekali bercerita sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kenyataan sebenarnya. Contoh kecilnya adalah ketika suatu siang di kampus, seseorang bercerita tentang baju yang baru dibelinya dari Milan kalau tidak salah. Lila kemudian membalas dengan bercerita bahwa bulan lalu ayahnya yang memiliki perusahaan di LA (kalau tidak salah) membelikan sebuah gaun pesta rancangan seorang desainer yang namanya sulit sekali disebut. Gaun pesta itu katanya bernilai puluhan juta. Aku jadi agak bingung mendengarnya, yang aku tahu ayahnya sudah meninggal ketika dia masih duduk di bangku SMP (itu yang aku dengar dari ibunya yang bercerita dengan seorang tetangga). Selain itu, bagaimana bisa dia membeli gaun seharga puluhan juta, padahal setiap hari dia harus bertengkar dengan ibunya agar diberi uang jajan lebih. Dia selalu mengeluhkan gaji ibunya yang sedikit sehingga dia tidak bisa membeli apa yang dia inginkan. Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kisah yang dia ceritakan sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya ? Manusia memang membingungkan.

Pagi ini ibu Lila mengatakan akan ke rumah sakit untuk merawat bibi Lila yang sedang sakit parah di rumah sakit. Kemungkinan dia akan menginap di sana sampai suami bibinya itu kembali dari luar kota. Lila tidak menanggapi apa – apa, sebelum akhirnya dia berangkat ke kampusnya.

Di kampus, Lila kudengar berbincang dengan seorang pemuda yang kalau tidak salah bernama Edwin. Pemuda ini sering bepergian bersama Lila, sepertinya mereka sangat dekat. Lila menceritakan bahwa ibunya hari ini tidak di rumah dan Edwin boleh berkunjung jika dia mau. Edwin langsung mengiyakan dan berjanji akan datang jam 8 malam.

Aku masih berada di dalam tas Lila ketika kudengar seseorang mengetuk pintu. Sesuai tebakanku, Edwin yang datang. Kudengar Edwin melangkah masuk sambil mengatakan dia ada film yang bagus untuk di tonton. Lila kemudian mengambil laptop yang berada di dalam tas bersamaku. Kejadian selanjutnya dapat ditebak, mereka pasti menonton film tersebut menggunakan laptop. Suasana menjadi hening, tiba – tiba aku mendengar suara – suara aneh yang kemungkinan berasal dari film yang mereka putar. Suara itu semakin lama semakin tidak keruan, sementara Lila dan Edwin tidak bersuara sama sekali.

Setelah ketenangan yang aneh itu berlangsung sekitar setengah jam, tiba – tiba aku mendengar ada orang lain yang memasuki ruangan. Orang itu kemudian mengeluarkan suara bentakan yang keras. Dari suaranya aku dapat mengenali itu adalah ibu Lila.

“Lila ! Apa yang kamu lakukan ?!! Dasar anak tidak tahu malu !” Ibu Lila membentak disusul dengan suara tepukan keras seperti ada yang dipukul menggunakan telapak tangan. Setelah itu terdengar suara Lila yang menangis tapi tidak berkata apa – apa.

“Dan kamu, kamu mau mencoba merusak anak ku hah ?!! Keluar dari rumahku sekarang, sebelum aku panggilkan polisi !” Ibu Lila melanjutkan bentakannya, kali ini pasti untuk Edwin.

“Maaf tante, “ hanya itu yang diucapkan Edwin, setelah itu terdengar langkahnya menjauh.

Setelah Edwin pergi, ibu Lila kembali memarahi anaknya, Dari suaranya dia kedengaran seolah ingin meledakkan dirinya dengan suara tinggi. Sesekali terdengar isakan dari Lila, tapi dia tidak pernah mengatakan apa – apa.

Selama beberapa hari setelah kejadian tersebut, Lila tidak pernah keluar dari rumah. Dia dihukum oleh ibunya tidak boleh kemana – mana. Hingga akhirnya masa hukuman tersebut berakhir. Aku kembali merasakan goncangan yang menandakan bahwa Lila sedang berjalan sambil membawa tasnya yang berisi aku dan laptopnya.

Aku sedang asyik dengan pikiranku sendiri ketika tiba – tiba Lila mengeluarkan laptop dari tasnya. Tanpa sengaja tali gantunganku terkait di tubuh laptop yang mengakibatkanku ikut terbawa keluar. Saat di luar tas aku terjatuh ke lantai. Lila tidak berusaha memungutku, sepertinya dia tidak menyadariku terjatuh di sini.

Beberapa menit kemudian Lila beranjak dari tempat duduknya dan pergi entah ke mana. Sepertinya dia betul – betul tidak menyadari aku jatuh di lantai. Biar sajalah, di sini rasanya sedikit lebih menyenangkan. Aku tidak lagi harus merasakan sakit karena kemasukan virus dari laptop Lila.

Sayangnya kesenanganku ini tiba – tiba harus rusak karena kedatangan seorang pemuda yang memungutku. Sepertinya aku masih harus menanggung rasa sakit lagi. Pemuda ini membawaku ke luar dari ruangan dan mencoba mencari pemilikku. Tapi sepertinya Lila sudah tidak berada di sekitar situ lagi. Dia kemudian memasukkanku ke dalam tas ranselnya. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di luar sana.

Aku sadar, saat ini aku resmi telah dimiliki oleh pemuda ini. Aku menduga – duga, akan diperlakukan seperti apa aku nanti olehnya. Dia mungkin akan memasukkan virus yang lebih menyakitkan ke tubuhku. Pasrah, hanya itu yang bisa kulakukan.

Setelah berada di kegelapan selama berjam – jam, pemilik baruku akhirnya mengeluarkanku dari ranselnya. Aku kemudian dicolokkan ke laptopnya.

“Mungkin aku bisa mengetahui pemiliknya dengan melihat – lihat isinya,” Si pemilik baruku bergumam sendiri. Begitu membuka file di dalamku, dia terlihat kaget.

“Astaga, ini flashdisk atau peternakan virus ? Virusnya banyak sekali.” Aku tahu dia pasti sedang berusaha membersihkanku dengan antivirus, aku bisa merasakannya. Menyenangkan sekali, tubuhku berangsur – angsur terasa lebih ringan. Beban rasa sakit yang selama ini kuderita berkurang dengan tiba – tiba. Terima kasih pemilik baruku.

Setelah melihat – lihat isiku, dia akhirnya menemukan identitas pemilik lamaku, Lila. Sepertinya dia berniat akan mengembalikanku lagi ke Lila. Kumohon jangan, aku tidak mau tersiksa lagi. Apa yang harus kulakukan agar aku tidak kembali ke tangan Lila ? meski baru sebentar bersama, aku sangat menyukai pemilik baru ku ini. Aku tidak mau kembali ke tangan Lila. Semoga ada sesuatu yang terjadi agar aku tidak dikembalikan ke Lila.

Keesokan harinya, aku kembali dimasukkan ke ransel. Aku tahu, pemuda ini pasti akan mengembalikanku ke Lila hari ini. Di dalam kegelapan ransel, aku berkali – kali memanjatkan permohonan yang sama seperti semalam. Berharap ada kejadian yang mencegahku bertemu Lila lagi. Dalam permohonanku, tiba – tiba aku merasakan goncangan yang sangat keras. Aku terlontar keluar lewat celah resliting ransel yang tidak tertutup dengan baik. Aku melayang di udara selama sepersekian detik hingga akhirnya terbentur di aspal . Sebelum aku hancur berkeping – keping terbentur aspal, aku sempat melihat tubuh si pemuda terkapar bersimbah darah. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di dunia, bukan lagi untuk sementara waktu tapi untuk selamanya…

Obrolan di Pete – pete

Aku menguap panjang berkali – kali saat sedang menunggu pete – pete 07 yang akan kutumpangi ke toko buku. Sore itu, aku berjuang mati – matian melawan kantukku. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak keluhan yang keluar dari mulutku karena rasa lelah dan kantuk. Betapa tidak, semalam aku baru tidur pukul 4 pagi karena harus mengerjakan sekarung tugas dari dosen (nah lo ?). Belum lagi aku harus bangun lagi pagi – pagi karena ada kuliah pukul 08.00. Pwaaaahhhh !!!! Rasanya ingin lari ke pantai kemudian teriak (yang ini kok mirip puisinya abang rangga di AADC ya ??).
Setelah tugas terkumpul, aku berharap bisa sedikit bersantai. Namun ternyata saudara – saudara sekalian !!!! Dosen dari mata kuliah lain memberikan tugas lain yang lebih parah. Setiap mahasiswa ditugaskan untuk membaca 15 halaman dari sebuah buku yang ditentukan. Setelah dibaca, dibuat reading report (baca: reading repot)  nya dan harus rampung dalam dua hari. Yang lebih mengerikan, buku itu harus dicari dan dibeli sendiri di toko buku (makan apa aku besok ???). Yah… aku tahu apa yang kalian pikirkan. Para dosen sepertinya memang berbakat untuk menjadi penganiaya handal.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, yang kuisi dengan menguap dan mengupil (yang terakhir tidak serius), akhirnya sang pete – pete pun tiba. Tanpa aba – aba si pete – pete berhenti tepat di hadapanku. Dengan sedikit oleng aku menaiki kendaraan favoritku tersebut.
Di dalam pete – pete tersebut seorang cowok menatapku dengan tatapan aneh bercampur geli (tidak usah repot – repot dibayangkan). Aku menebak, dalam hati dia pasti berkata ” apakah ini seekor cewek bermata panda atau seorang panda bertubuh langsing ?” Dengan naluri kewanitaanku, aku merogoh cermin kecil dari tasku dan mengintip wajahku. Benar saja, di bawah mataku telah tercetak noda gelap nan indah (kantung mata). Musnahlah sudah kecantikanku…. *hoeeeekkk.
Di kursi depan, seorang ibu dengan bangganya bercerita tentang anaknya yang akan dia daftarkan di jurusan kedokteran tahun ini. Si supir yang sepertinya menyimak baik – baik cerita si ibu, menanggapi dengan nada sedih. “Anakku saya bu, tahun lalumi lulus. Mau kukasi kuliah tapi tena doe’.”
“Ih, kalo universitas swasta mahal memang spp nya. Tapi kalo unhas murahji daeng,” ujarku.
“Iye, tapi kalo mau masuk haruspi lagi ikut bimbel. Main jutaanpi itu lagi.”
“Saya nda ikutja bimbel dulu, tpi lulusja juga,” sanggahku.
“Jurusan apaki kah dek ?” giliran si ibu yang bertanya.
“Sastra Inggris,” jawabku singkat.
“Ooh, pantas. Rendahji memang passing grade nya, jadi gampang orang masuk. Tapi sedengar – dengar kurang baguski.” Ucapnya santai.
Gubrakkkkk !!!
“Itu rendah PG nya bu, karena kebetulan peminatnya sedikit. Sayangnya, kebanyakan orang masih mengukur kualitas suatu jurusan dari PG nya. Padahal, pada dasarnya samaji. Jurusan sastra Inggris itu bagus bu, banyak loh lulusannya yang sekarang jadi diploma di luar negeri.” Si cowok yang sedari tadi diam, akhirnya memberikan komentar penyelamatan untukku. Aku menatapnya dengan tatapan berterima kasih (mataku berkaca kaca sambil mengucapkan terima kasih #berlebihan#).
Setelah itu, nyaliku untuk berkomentar meningkat kembali. “Bapakku pernah bilang, jurusan apapun itu kalau dijalani dengan baik dengan serius, insya Allah akan membuahkan hasil yang baik juga.” (Ini serius, bapakku pernah billang. Tojengnga !).
“Berapakah spp ta kita dek ?” cletuk si supir.
“600 per semester daeng.”
“Murah itu menurutta, tapi kalo penghasilannya kaya saya ini, masih mahal itu. Ada lagi pemasukan, tapi banyak juga mau dibayar yang lain.”
Aku baru akan berkomentar lagi, tapi rupanya aku sudah sampai di tujuanku. Komentarku akhirnya kuganti dengan, “kiri !!!”
Setelah turun , aku berjalan dengan pelan menuju tempat toko buku tujuanku berada. Pikiranku masih dipenuhi dengan percakapan tadi.
Rupanya pendidikan masih terbilang cukup mahal bagi sebagian orang. Sementara aku yang dengan mudah memperoleh pendidikan, malah banyak mengeluh dan selalu ingin bersantai. Tidak ada rasa syukur terhadap anugerah tersebut.
“Astaga !!!! ” Tiba – tiba aku menyadari sesuatu. Aku lupa membayar ongkos pete – pete tadi. Bingung, mau senang atau kasian nih ? Si supir kok tidak menegur sih ? Ah, mungkin memang ini sudah rejekiku hari ini, naik pete – pete gratis.

Tentang Buku Yang Belum Selesai Kubaca

Beberapa hari yang lalu, aku iseng mengunduh ebook di atas. Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk membacanya karena biasanya buku – buku semacam itu membuatku cepat bosan dengan jalan ceritanya yang terlalu bertele – tele. Tapi, karena tidak punya bahan bacaan yang lain aku terpaksa membacanya dengan niat untuk mengobati kebosanan. Tidak kuduga, setelah membaca beberapa lembar halaman awal serta profil penulisnya aku jadi keterusan karena penasaran. Tapi seperti biasa, karena menemukan objek baca yang lain, sampai sekarang aku belum menyelesaikan membacanya sampai akhir. Sekalipun aku belum membacanya sampai selesai, aku sudah bisa memberikan sedikit gambaran tentang buku ini.
Buku ini ditulis oleh seorang produser dan konsultan NBC dan MSNBC dan pengajar di Yale University . Buku yang berjudul asli “Are You There Alone?: The Unspeakable Crime of Andrea Yates” ini merupakan laporan investigatif dari persidangan Andrea Yates.
Yang menarik, di dalam buku ini menyajikan timeline yang dimulai dari tanggal menikah Andrea Yates hingga ketika dia divonis penjara seumur hidup. Timeline tersebut membuktikan bahwa penulis telah melakukan investigasi yang sangat serius dan mendetail. Aku juga sempat bergidik saat membaca halaman yang menuliskan penuturan Andrea kepada polisi tentang bagaiman dia membunuh anaknya satu per satu.
Kesimpulanku, meskipun kasus Andrea Yates ini sudah tidak baru lagi, buku ini akan tetap menarik untuk dibaca. Membaca buku ini tidak ubahnya seperti membaca buku – buku fiksi yang lain karena penulis menuturkannya dengan gaya fiksi. Jangan tertipu oleh judulnya